Tuesday, February 06, 2007

Kesederhanaan

Oleh : Irman Sulaiman Fauzi

Abu Hurairah meriwayatkan bahwa Nabi SAW pernah berkata tentang hal yang dapat menyelamatkan diri dari siksa Allah SWT, di antaranya adalah sederhana dalam kehidupan dunia baik dalam keadaan fakir maupun di saat kaya raya. Ditegaskan pula oleh Allah SWT dalam surah Al-Naazi'aat [79] ayat 40-41: ''Dan adapun orang yang takut kepada kebesaran Tuhannya dan menahan diri dari keinginan hawa nafsunya, maka sesungguhnya surgalah tempat tinggal-(nya).''

Kesederhaan dapat diartikan sebagai sikap tidak berlebih-lebihan dalam berlaku dan berpikir, termasuk dalam hal kepemilikan harta benda. Kesederhanaan hendaknya diartikan sebagai sikap yang tenggang terhadap kondisi umat yang sekarang sedang dilanda krisis. Kesederhanaan merupakan manifestasi dari tingginya kepekaan sosial seorang hamba Allah SWT yang takut akan kebesaran-Nya.

Kesederhanaan dalam berpikir dapat menjaga akal dari pikiran-pikiran yang merusak diri dan orang lain. Sederhana dalam berpikir berarti pula tidak memikirkan sesuatu yang bukan hak atau wilayahnya. Sedangkan kesederhanaan dalam berlaku adalah kesederhanaan yang secara kasat mata terlihat oleh orang lain.

Ajaran Islam memberikan cara-cara yang baik dalam berpakaian, baik perhiasan, baju, maupun wangi-wangian, berkata sampai pada cara berjalan. Semua itu adalah agar tidak mengundang penilaian negatif. Firman Allah SWT dalam surah Lukman [31] ayat 19, ''... sederhanalah kamu dalam berjalan. Dan lunakkanlah suaramu sesungguhnya seburuk-buruk suara adalah suara keledai.''

Ayat ini menuntun kita untuk berlaku sederhana. Keledai adalah perumpamaan bagi mereka yang isyrof (berlebih-lebihan). Kesederhanaan dapat menjadi bingkai kehidupan yang akan membawanya pada kondisi hidup yang teratur dan dapat membuat pelakunya memiliki kekuatan sosial.

Kesederhanaan dapat mengubah suasana sosial semakin harmonis dan terhidar dari kesenjangan yang dapat mengusik ketenteraman hidup umat. Bukankah menjaga ketenteraman hati seseorang merupakan bentuk keimanan dan ketakwaan?

Seharusnya sikap sederhana ada dalam jiwa seorang pemimpin yang bijak, terlebih keadaan negara kita tidak memungkinkan warganya untuk bermewah-mewah. Berpenampilan secara berlebihan dan berkomentar kontroversial yang bukan pada tempatnya, dan justru akan menambah 'kebisingan' hidup bernegara dan berbangsa. Selayaknya kita sama-sama menjaga kebersamaan dengan sikap sederhana demi tercapainya masyarakat yang madani. Wallahu a'alam bish-shawab.

Sumber : Hikmah Republika Online, 06-02-2007

No comments: