Wednesday, February 14, 2007

Kapal Karunia Allah

Oleh : EH Kartanegara

Kehebatan apa yang bisa dibanggakan oleh sebuah kapal di tengah samudera yang luas dan perkasa? Apa pula kehebatan sebuah pesawat yang terbang di angkasa luas tiada berbatas? Tak lebih dari dua titik debu --amat rapuh, tak berarti apa-apa dibanding kehebatan jagat raya. Tragedi tenggelamnya Titanic --kapal pesiar raksasa yang sangat mewah dan melegenda, juga pesawat ulang-alik milik NASA yang meledak di udara (1985)-- membuka ingatan kita bahwa sesungguhnya tak ada kendaraan yang layak disombongkan untuk tidak bisa celaka.

Beberapa ayat Alquran menjelaskan kapal laut (bahtera) dan beberapa kendaraan lain adalah bagian dari karunia dan tanda-tanda kekuasaan Allah. Dalam surat Yaasin (36) ayat 41-42 Allah berfirman, ''Dan suatu tanda (kekuasaan Kami) bagi mereka bahwa Kami mengangkut keturunan mereka dalam bahtera sarat muatan. Dan kami ciptakan bagi mereka (kendaraan) yang sama yang dapat mereka kendarai.''

Dalam teks aslinya, disebutkan kata fil-fulki (dalam bahtera) yang dalam bahasa Indonesia sering diterjemahkan sebagai kapal laut. Ini merujuk pada sejarah Nabi Nuh dan kaumnya yang diselamatkan Allah dengan menggunakan kapal ketika terjadi badai besar (Qishasul Anbiya' oleh Ibnu Katsir).

Dalam surat Al Jaatsiyah (45) ayat 12, juga ditegaskan, ''Allahlah yang menundukkan lautan untukmu supaya kapal-kapal dapat berlayar padanya dengan seizin-Nya, dan supaya kamu dapat mencari sebagian karunia-Nya dan mudah-mudahan kamu bersyukur.''

Di tengah samudera atau ruang angkasa dengan cuaca dan empasan badai yang tak akan mampu dikuasai manusia, mustahilkah bagi sebuah kapal atau pesawat terbang bisa selamat tanpa campur tangan Allah? Terlebih lagi Allah berfirman, ''Jika Kami menghendaki niscaya Kami tenggelamkan mereka, maka tiadalah bagi mereka penolong dan tidak pula mereka diselamatkan.'' (Yaasin [36] : 43)

Oleh Abdullah Yusuf Ali, ayat itu ditafsirkan bukan hanya kedahsyatan alam itu saja yang merupakan kekuasaan Allah, melainkan juga ilmu yang diberikan kepada manusia untuk menciptakan kapal, pesawat udara, dan berbagai kendaraan lain (Qur'an Terjemahan dan Tafsirnya, Pustaka Firdaus, 1994). Begitu juga kemampuan manusia untuk mengendarai berbagai alat transportasi itu, tak lain dari karunia Allah.

Itulah sebabnya banyak pula hadis yang menuntun kita agar berdoa menyebut asma Allah tiap kali kita naik kendaraan. Kalau kita bisa selamat naik kendaraan, itu bukan karena keahlian kita mengendarainya, melainkan karena ada yang menaklukkan kendaraan itu.

Salah satu doa naik kendaraan, ''Segala puji bagi Allah yang telah menaklukkan ini semua (kendaraan) bagi kami, padahal sebelumnya kami tidak mampu menguasainya, dan sesungguhnya kami akan kembali kepada Tuhan kami.'' Tak bersyukurkah kita atas karunia itu? Wallahu a'lam.

Sumber : Hikmah Republika Online, 14-02-2007

No comments: