Oleh : A Ilyas Ismail
Dalam bahasa Arab, perkataan aqidah berasal dari kata 'aqd yang secara harfiah berarti sesuatu yang mengikat. Janji, sumpah setia, dan berbagai bentuk transaksi lainnya dinamai 'aqd (akad), karena ia mengikat setiap pihak yang terlibat di dalamnya. Iman yang kuat kepada Allah SWT, tanpa ada sedikit pun keraguan di dalamnya dinamai aqidah, karena ia mengikat hati orang yang beriman dan harus ditepati sepanjang hayatnya.
Dalam Alquran disebutkan bahwa setiap manusia menyatakan janji dan komitmen untuk senantiasa menuhankan Allah SWT dan menyembah hanya kepada-Nya tatkala Allah SWT bertanya, ''Bukankan Aku ini Tuhanmu?'' Mereka menjawab, ''Betul (Engkau adalah Tuhan kami), kami menjadi saksi. (Kami lakukan ini) agar di hari kiamat nanti kami tidak mengatakan, 'Sesungguhnya kami (Bani Adam) adalah orang-orang yang lengah terhadap ini (keesaan Allah).'' (QS Al-A'raf [7]: 172).
Menurut mahaguru tafsir, Ibnu Katsir, iman dan syahadah seperti disebut dalam ayat di atas, adalah iman dalam bentuk fitrah yang merupakan kecenderungan atau watak dasar manusia. (QS Ar-Rum [30]: 30). Itu sebabnya sebagian pakar menyebut iman dan syahadah semacam ini sebagai ''perjanjian primordial'' yang intrinsik dan inheren menyertai setiap kelahiran anak manusia.
Namun, sebagaimana disebutkan dalam hadis shahih, setelah manusia mendapat pengaruh dari keluarga dan lingkungan sosialnya, ia bisa berubah dari fitrahnya dan tumbuh menjadi orang kafir sebagai Yahudi, Nasrani, atau Majusi. Kepada orang-orang yang menyimpang dari fitrahnya ini, Allah SWT menegur dan mengingatkan kembali janji primordialnya yang dahulu pernah dideklarasikan. ''Bukankah Aku telah memerintahkan kepadamu hai Bani Adam supaya kamu tidak menyembah setan.'' (QS Yasin [36]: 60).
Teguran Allah SWT dalam ayat di atas sungguh penting, agar kita tidak lalai dan lupa kepada-Nya. Manusia modern, tulis Profesor Sayyid Husain Nashr, berada di pinggiran, jauh dari 'centrum' pusat kehidupan, yaitu Allah SWT. Dikatakan, hubungan mereka dengan Allah SWT begitu jauh, bahkan hampir terputus sama sekali. Tak heran bila mereka banyak mengidap penyakit 'kehampaan spiritual' akibat terputus dari asalnya dan lupa terhadap janji primordialnya.
Diakui, di satu sisi Allah SWT sebagai asal dan sumber kehidupan bersifat transendent, yaitu Mahatinggi (ta'ala), sehingga tak ada sesuatu pun serupa atau menyerupai-Nya. Namun, di sisi lain, Allah SWT bersifat sangat inmanen, yaitu Mahadekat (qarib) dan Mahahadir (omni-present). (QS Al-Baqarah [2]: 186).
Sumber : Kolom Hikmah Republika Online, 04-09-2006
http://www.republika.co.id/kolom_detail.asp?id=263040&kat_id=14
Monday, September 04, 2006
Subscribe to:
Post Comments (Atom)
No comments:
Post a Comment