Tuesday, September 19, 2006

Keseimbangan

Banyak yang mengartikan ibadah secara sempit, hanya sebatas ritual keagamaan, hubungan vertikal kepada Allah dan melupakan hubungan sosial yang tersalur lewat kehidupan kemasyarakatan. Padahal Islam mengajarkan pemeluknya untuk senantiasa memperoleh fiddunnya hasanah wa fil akhirati hasanah, kebaikan hidup di dunia dan di akhirat ''Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bagianmu dari (kenikmatan) duniawi dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu,'' (QS Al-Qashash [28]: 77). Ayat tersebut menegaskan perlunya keseimbangan menjalani hidup, baik untuk urusan duniawi maupun ukhrawi.

Dalam masalah ibadah, Islam memberikan dua pahala sekaligus. Ibadah shalat, selain menunaikan kewajiban dan berharap pahala akhirat, juga harus memberi pahala dunia yakni mengajarkan hidup bersih dan menanamkan disiplin waktu. Ibadah puasa selain berharap rahmat, ampunan, dan surga-Nya, juga harus memberi manfaat secara langsung, yakni membentuk kepribadian unggul yang dapat mengendalikan hawa nafsu dan punya kepedulian sosial yang tinggi.

Jadi, beragama yang benar, selain melaksanakan shalat lima waktu, menunaikan zakat, berpuasa di bulan Ramadhan, dan menunaikan ibadah haji, juga mempunyai rasa tanggung jawab sosial yang tinggi.

Karena itu, belum dikatakan sempurna keagamaan seseorang jika dia berkecukupan harta benda, namun tidak menyedekahkannya dan membantu saudaranya yang masih kekurangan. Seorang haji akan lebih afdhal jika turut membantu biaya sekolah anak tetangganya yang miskin. Muslim yang hakiki adalah sosok yang selalu beribadah kepada Allah, dan juga konsis dan peka terhadap kehidupan sosial.

Dalam mengekspresikan keseimbangan, Islam sangat menekankan kewajaran. Islam tidak menyukai hal-hal yang berlebihan. Rasulullah sendiri memberikan contoh yang wajar dan sederhana dalam menjalani ibadah. Dalam sebuah hadis, Rasulullah SAW bersabda, ''Ingatlah, sesungguhnya aku ini tetap berpuasa dan berbuka, salat malam dan tidur, dan aku juga menikah. Barangsiapa yang tidak menyukai sunahku, maka tidak termasuk golonganku,'' (HR Bukhari-Muslim).

Jika kita telah beragama dengan seimbang, niscaya kita akan menjalani hidup ini dengan tenang, sejahtera dan bahagia di dunia dan akhirat. Sehingga, tidak dijumpai lagi sebagian orang yang memaksakan kehendaknya, mengkafirkan saudaranya, melakukan aksi kekerasan dan teror.

Sumber : Kolom Hikmah Republika Online, 18-09-2006
http://www.republika.co.id/kolom_detail.asp?id=264983&kat_id=14

No comments: