Oleh : Sigit Indrijono
Di tengah fenomena kehidupan dunia saat ini yang sangat hedonistik, manusia mempunyai kecenderungan bersifat egoistik. Lebih mementingkan diri sendiri dan mengabaikan kepentingan orang lain.
Banyak contoh nyata egoisme yang ditemui sehari-hari dalam kehidupan. Bisa jadi, kita telah melakukan praktik egoisme tersebut, secara sadar ataupun tidak. Harus disadari bahwa egoisme adalah suatu penyimpangan dari jalan yang diridhai-Nya.
Egoistik bisa diantisipasi dengan empati. Empati merupakan salah satu kunci keberhasilan dalam interaksi antarpribadi. Dengan empati, kita bisa saling memahami apa yang dirasakan oleh orang lain. Sehingga, kita tidak akan meraih tujuan yang menyebabkan penderitaan dan kesengsaraan pada orang lain.
Pada dasarnya, empati itu telah tertanam pada diri setiap manusia. Suatu sunatullah yang telah dilekatkan pada penciptaan manusia oleh Allah SWT. Saling memahami antarpribadi yang timbul dari empati akan meningkatkan rasa saling ketergantungan. Karenanya akan timbul keinginan saling bekerja sama. Selanjutnya akan timbul keinginan untuk mendahulukan kepentingan orang lain. Akhirnya terjalin rasa belas kasihan dan tenggang rasa terhadap sesama hamba Allah SWT.
Rasulullah SAW, panutan kita, mempunyai empati yang dalam terhadap orang lain, seperti yang tergambar dalam ayat berikut ini. ''Sesungguhnya telah datang kepadamu seorang Rasul dari kaummu sendiri, berat terasa olehnya penderitaanmu, sangat menginginkan (keimanan dan keselamatan) bagimu, amat belas kasihan lagi penyayang terhadap orang-orang mukmin.'' (QS At Taubah [9]:128).
Dalam sebuah hadisnya, Rasulullah bersabda, ''Seorang Muslim bersaudara dengan sesama Muslim lainnya, tidak boleh menganiaya dan tidak boleh dibiarkan dianiaya oleh orang lain. Dan barangsiapa yang menyampaikan hajat saudaranya, niscaya Allah akan menyampaikan hajatnya. Dan barangsiapa membebaskan kesukaran seorang Muslim di dunia, niscaya Allah akan membebaskan kesukarannya di hari kiamat. Dan barangsiapa yang menutupi kejelekan seorang Muslim, niscaya Allah akan menutup kejelekannya di hari kiamat.'' (HR Bukhari Muslim).
Hadis di atas menekankan tentang pentingnya empati dengan memahami permasalahan yang dihadapi oleh orang lain. Kepedulian terhadap kesulitan orang lain merupakan indikator sejauh mana rasa ukhuwah seseorang terhadap orang lain. Atribut-atribut duniawi seperti pangkat, kedudukan, ataupun status sosial harus ditanggalkan, karena kita semua adalah hamba Allah SWT.
Sumber : Kolom Hikmah Republika Online, 13-09-2006
http://www.republika.co.id/kolom_detail.asp?id=264329&kat_id=14
Wednesday, September 13, 2006
Subscribe to:
Post Comments (Atom)
No comments:
Post a Comment