Monday, September 04, 2006

Generasi Mandiri

Oleh : Mulyana

Allah SWT dan Rasul-Nya telah memberi petunjuk beharga bahwa perubahan seorang manusia, masyarakat, bangsa, ataupun umat manusia secara umum sangat ditentukan bagaimana mereka berusaha untuk melakukan perubahan tersebut. ''Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum, sehingga mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri.'' (QS Ar-Ra'd [13]: 11).

Sejarah pun telah membuktikan. Sebuah bangsa yang gigih dalam berjuang dan mengoptimalkan segala kemampuan dan sumber daya yang dimiliki, akan menjadi bangsa yang besar dan maju. Sebaliknya, bangsa yang hanya mengandalkan pinjaman dan belas kasihan dari lembaga-lembaga 'rentenir', maka bangsa tersebut tak akan pernah maju. Karena, bangsa seperti ini dengan mudah akan selalu diatur oleh lembaga donor tersebut.

Bagi kita umat Islam, telah ada contoh nyata dari Rasulullah SAW yang terlahir dalam keadaan yatim. Beliau berusaha dan bekerja secara optimal hingga berhasil dan sukses menjadi pedagang dalam usia yang relatif muda. Poin penting yang harus digarisbawahi dari firman Allah SWT dan fakta kesuksesan di atas adalah kemandirian. Kemandirian merupakan manifestasi dari keyakinan seseorang atau bangsa untuk mengoptimalkan kemampuan yang dimilikinya dengan tidak bergantung pada orang atau bangsa lain. Kemandirian sangat menentukan berhasil atau tidaknya dalam melakukan perubahan menuju kebaikan. Kemandirian ini tidak bisa berdiri sendiri tanpa dibarengi keberanian.

Kemandirian seseorang sangat ditentukan bagaimana mereka mendapat didikan sejak dari kecil. Proses pembentukan kemandirian pun dipengaruhi pula oleh sistem pendidikan di sekolah. Sekolah yang selalu berorientasi pada hasil yang harus dicapai oleh anak didiknya, menyebabkan kreativitas dan keberanian seorang anak menjadi tumpul.

Namun sebaliknya, sekolah yang menghargai proses yang telah dilakukan anak didiknya, dan terus memberikan stimulus agar mereka berkreasi, akan lebih mudah menumbuhkan keberanian dan kemandirian. Dalam konteks kekinian, sepertinya kemandirian sebagai bangsa belum terwujud di Indonesia. Banyak hal yang berkaitan dengan kehidupan ekonomi maupun hukum sangat kental dengan intervensi kepentingan negara lain. Karenanya, jika kita mau bangkit menjadi bangsa yang besar, maka mulailah dari sekarang, tumbuhkan kemandirian kepada setiap anak bangsa ini. Tunjukkan kepada negara luar bahwa bangsa ini memiliki kehormatan yang tidak bisa dibeli dengan sumbangan apa pun.

Sumber : Kolom Hikmah Republika Online, 02-09-2006
http://www.republika.co.id/kolom_detail.asp?id=262883&kat_id=14

No comments: