Tuesday, August 22, 2006

Ulat Sutra

Oleh : Muhammad Zaenuri

Sebagian orang merasa jijik melihat ulat. Dari segi bentuk, ulat memang tampak menjijikkan. Padahal, ulat pada waktunya akan berubah menjadi kupu-kupu yang indah. Sadarkah kita, kain sutra yang dipakai para pembesar, raja-raja, dan kaum bangsawan sebenarnya berasal dari tubuh makhluk yang dianggap menjijikkan itu: ulat sutra.

Jika merenungkan ciptaan Allah SWT ini, setidaknya ada lima pelajaran dapat diambil. Pertama, jangan cepat menilai seseorang dari lahiriahnya. Boleh jadi, orang yang tampak tidak beharta, tak memiliki jabatan justru menjadi kekasih Allah SWT. Sebab, Allah SWT tidaklah memandang seseorang dari banyaknya harta dan penampilan, tapi dari amalan dan hatinya.

Kedua, setiap manusia hendaknya menghargai yang membantunya, sekecil apa pun peranannya. Pemimpin perusahaan harus memperhatikan kesejahteraan pegawainya, meski hanya tukang sapu. Tidak semena-mena dan bersikap angkuh. Tanpa mereka, kita tidak dapat berbuat apa-apa. Seorang majikan, bersikap baik pada pembantu, tanpanya kita tentu merasa kerepotan.

Ketiga, tidak menvonis manusia yang pernah berbuat salah. Kita harus berlapang hati. Sebab manusia yang bersalah, seiring pergantian waktu dapat berubah menjadi baik. Seperti seekor ulat yang dapat berubah menjadi kupu-kupu yang indah.

Kempat, penciptaan ulat adalah wujud Keagungan dan Kemahakuasaan Allah SWT. Dari tubuh ulat yang hina itu, manusia bisa membuat pakaian yang indah, sehingga status sosialnya naik. Dari makhluk yang menjijikkan itu, taman-taman bunga mejadi makin indah karena berhiaskan kupu-kupu yang beterbangan dengan aneka warna, bentuk, dan ukuran.

Kelima, sebaik-baik manusia adalah yang paling banyak memberi manfaat bagi manusia lain. Setiap manusia dilengkapi Allah SWT kelebihan yang dapat mengangkat derajatnya. Seperti ulat sutra, meski dia hanyalah seekor ulat, tapi karena mampu menghasilkan sesuatu yang beharga, manusia memelihara dan memuliakannya.

''Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi orang-orang yang berakal. (yaitu) Orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadaan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata), Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia. Mahasuci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka.'' (QS Ali Imran [3]: 190-191). Lalu, masih patutkah kita menyombongkan diri, padahal kita diciptakan dari bahan yang sama.

Sumber : Kolom Hikmah Republika Online, 19-08-2006
http://www.republika.co.id/kolom_detail.asp?id=261318&kat_id=14

No comments: