Thursday, August 24, 2006

Kebersamaan Hamba

Oleh : Muhbib Abdul Wahab

''Aku adalah seperti yang disangkakan oleh hamba-Ku, dan Aku bersama hamba-Ku ketika ia berdoa kepada-Ku.'' (HR Abu Ya'la). Kebersamaan hamba dengan Allah SWT melalui doa merupakan kebersamaan yang sangat indah dan pasti membawa anugerah dan berkah bagi kehidupan manusia yang tak luput dari salah dan dosa.

''Apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu (Muhammad) tentang diri-Ku, (katakanlah) bahwa Aku ini sangat dekat, dan akan menjawab panggilan hamba-Ku apabila ia memang berdoa kepada-Ku.'' (QS Al-Baqarah [2]: 186). Doa merupakan akses komunikasi vertikal setiap hamba untuk meningkatkan kebersamaan dan keakraban dengan Allah SWT. ''Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Kuperkenankan doamu, sesungguhnya orang-orang yang sombong untuk tidak mau beribadah (berdoa) kepada-Ku akan masuk neraka jahanam dalam keadaan hina-dina.'' (QS Al-Mukmin [40]: 60).

Hanya saja, jalan kebersamaan hamba dengan Allah SWT melalui doa tak selalu mulus, sehingga seringkali seseorang merasa doanya tidak didengar dan diterima Allah SWT. Suatu ketika Rasulullah menyebutkan seseorang yang datang dari suatu perjalanan jauh dengan rambut acak-acakan dan wajah kusut penuh debu mengangkat tangannya ke langit.
'

'Ya Tuhanku, ya Tuhanku ....'' Rasulullah kemudian menyatakan kepada para sahabat. ''Bagaimana mungkin doanya akan dikabulkan Allah, sementara makanannya haram, minumannya haram, dan pakaiannya haram.'' (HR Abu Daud).

Kebersamaan hamba dengan Allah SWT menuntut kesucian hati, husnuzhan dengan-Nya, dan kebersihan lahir batin. Dikisahkan bahwa ada seorang yang bertanya kepada sufi terkenal, Ibrahim bin Adham, mengapa doanya seolah tidak pernah didengar dan dikabulkan. Sang sufi itu menjawab dengan sepuluh alasan berikut.

''Karena kamu mengenal Allah, tapi tidak menaati-Nya. Karena kamu mengenal Rasulullah, tapi kamu tidak mengikuti sunahnya. Karena kamu mengenal Alquran, tapi kamu tidak mengamalkannya. Karena kamu memakan pemberian-Nya, tapi tidak mensyukurinya. Karena kamu mengenal surga, tapi tidak berusaha mengejarnya. Karena kamu mengenal neraka, tapi tidak berusaha lari menghindarinya. Karena kamu mengenal setan, tapi tidak memusuhinya malah menemaninya. Karena kamu mengenal kematian, tapi tidak bersiap-siap menghadapinya. Karena kamu menguburkan jenazah, tapi tidak mengambil pelajaran darinya. Karena kamu mengabaikan aibmu, sementara kamu sibuk mengurusi aib orang lain.''

Sumber : Kolom Hikmah Republika Online, 24-08-2006
http://www.republika.co.id/kolom_detail.asp?id=261643&kat_id=14

No comments: