Tuesday, August 22, 2006

Isra Mi'raj

Oleh : Yusuf Burhanudin

''Mahasuci Allah, yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsha yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian tanda-tanda kebesaran Kami. Sesungguhnya Dia Maha Mendengar lagi Maha Melihat.'' (QS Al-Isra [17]: 1).

Demikian Alquran menggambarkan perjalanan rohani Nabi SAW dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsha, kemudian dari Masjidil Aqsha ke Sidratul Muntaha dan puncaknya beraudiensi dengan Allah SWT. Saat itulah beliau menerima kewajiban shalat lima waktu.

Pada awalnya, peristiwa ini merupakan hiburan dari Allah SWT atas kedukaan mendalam ('amul khuzni) Rasulullah SAW saat ditinggal wafat dua kekasih karib; Abu Thalib sang paman, dan istri tercinta Siti Khadijah. Pengorbanan keduanya dalam mendukung dakwah sudah tidak diragukan. Rasa kehilangan kian menjadi seiring perlawanan orang kafir yang semakin keras.

Dalam situasi tertekan itulah, Allah SWT menghibur beliau dengan Isra Mi'raj. Peristiwa dahsyat Isra Mi'raj tentu bukan sekadar mukjizat khusus Nabi SAW saja. Hikmahnya tersemai bagi seluruh umat beliau sepanjang masa.

Karena Isra Mi'raj adalah cermin wisata spiritual dua dimensi yang membentuk segitiga dinamis; memanjang garis lurus horizontal (dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsa) untuk bergerak menuju garis tegak vertikal (Masjidil Aqsha ke Sidratul Muntaha). Isra tak lain tamsil wisata horizontal dan Mi'raj perumpamaan ziarah vertikal.

Isra memberi hikmah bagaimana hubungan manusia secara horizontal dilakukan seoptimal mungkin. Sementara Mi'raj, menekankan keharusan untuk berproses naik guna bertemu dengan-Nya. Shalat lima waktu, selain deklarasi resmi ibadah umat Islam, juga menjadikan shalat sarana ziarah vertikal yang bisa mengantarkan seseorang bertemu Allah SWT.

Shalat adalah mi'rajnya orang-orang mukmin (mi'rajul mukminin), detik-detik pertemuan dengan-Nya. ''Maka, sembahlah Aku dan dirikanlah shalat untuk mengingat-Ku.'' (QS Thaha [20]: 14). Isra Mi'raj mengajarkan pertahanan diri dalam hidup secara vertikal dan horizontal.

Memohon pertolongan Allah SWT dengan shalat dan menghadapi gangguan sesama dalam dakwah dengan kesabaran. Inilah garis merah Isra Mi'raj yang biasa diperingati umat Islam setiap 27 Rajab. ''Jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu. Yang demikian itu sungguh berat, kecuali bagi orang-orang khusyuk. (Yaitu) Orang-orang yang meyakini akan menemui Tuhannya dan akan kembali kepada-Nya.'' (QS Al-Baqarah [2]: 45-46).

Sumber : Kolom Hikmah Republika Online, 22-08-2006
http://www.republika.co.id/kolom_detail.asp?id=261439&kat_id=14

No comments: