Oleh : Ian Suherlan
Sebelum Umar bin Khathab terpilih menjadi khalifah, ia biasa mencari penghasilan hidupnya dengan berdagang. Setelah dinobatkan menjadi Amirul Mukminin, ia digaji dari kas negara yang bila dikalkulasi, jumlahnya cukup memenuhi kebutuhan hidup Umar dan keluarganya dengan standar kehidupan yang paling rendah.
Selang beberapa waktu, sekelompok sahabat senior seperti Ali, Utsman, dan Thalhah mendiskusikan untuk menaikkan gaji Umar. Tapi, tak seorang pun yang berani mengusulkan itu kepada sang Khalifah. Akhirnya, mereka pergi menemui Hafshah, putri Khalifah dan janda Rasulullah SAW, agar meminta persetujuan Umar atas usulan mereka.
Hafshah lantas pergi menemui Umar. Segera setelah mendengarkan usulan tersebut, ia naik pitam dan membentak. ''Siapakah orang-orang yang telah mengajukan usulan jahat ini?''
Hafshah diam tak menjawab. Khalifah Umar berkata lagi, ''Seandainya aku mengetahui mereka niscaya aku akan memukulnya hingga babak belur. Engkau putriku, engkau bisa melihat di rumahmu sendiri pakaian-pakaian terbaik yang biasa dipakai Rasulullah SAW, makanan terbaik yang biasa dimakan Rasulullah SAW, dan ranjang terbaik yang biasa Beliau gunakan untuk tidur. Apakah milikku lebih buruk dari semua itu?''
''Tidak, ayah, tidak,'' jawab Hafshah terbata. ''Kalau begitu katakan pada orang yang telah mengirimmu.'' Umar diam sejenak sebelum akhirnya melanjutkan, ''Bahwa Rasulullah telah menetapkan standar kehidupan seseorang dan aku tidak akan menyimpang dari standar yang Beliau gariskan.'' (M Ebrahim Khan, Kisah-kisah Teladan Rasulullah, Para Sahabat, dan Orang-orang Saleh, Pustaka Pelajar, 2003).
Sungguh mengagumkan. Kisah itu menunjukkan kesederhanaan hidup dan kehati-hatian seorang pejabat dalam menggunakan uang negara. Jangankan meminta sendiri kenaikan gaji atau bahkan mencari pemasukan uang secara tidak sah (korupsi), diusulkan pun bukannya menerima atau merestui, Umar malah marah, sekalipun terhadap putrinya sendiri.
Kondisi ini mungkin kontras dengan saat ini. Bukan hanya menerima usulan kenaikan gaji dari orang lain, tapi juga berinisatif agar gaji mereka dinaikkan. Belum cukup dengan sejumlah pemasukan tersebut, ada pula yang lompat pagar menjadi calo untuk berbagai urusan proyek negara dan pemerintahan. Kolusi dengan para pengusaha dalam pengelolaan sumber daya alam, lain lagi ceritanya. Rasanya sulit atau bahkan tidak ada sosok pejabat saat ini yang seperti Umar. Mental dan moralnya jauh berbeda. Sungguh kita merindukan pejabat seperti Umar.
Sumber : Kolom Hikmah Republika Online, 26-08-2006
http://www.republika.co.id/kolom_detail.asp?id=261903&kat_id=14
Monday, August 28, 2006
Subscribe to:
Post Comments (Atom)
No comments:
Post a Comment