Wednesday, December 06, 2006

Musibah

Oleh : Asrori

Musibah dalam bahasa Arab berarti mengenai, menimpa, atau membinasakan. Muhammad Husein Thabataba'i, ahli tafsir modern dalam kitabnya, Al-Mizan fi Tafsir al-Quran, menyatakan bahwa musibah adalah kejadian apa saja yang menimpa manusia yang tidak dikehendaki. Nabi Muhammad SAW yang diriwayatkan oleh Imam Muhammad bin Nasr at-Thabari pernah mengatakan, ''Apa yang menimpa manusia berupa hal-hal yang tidak dikehendaki, itu namanya musibah.''

Dalam Alquran terdapat beberapa ayat yang menyinggung persoalan 'musibah' ataupun nama lain dari itu, bala dan cobaan. Seperti termaktub dalam surat Al Baqarah ayat 155, Al Maidah (5) ayat 49, dan At Taubah (9) ayat 50. Musibah yang menimpa seseorang atau suatu kelompok tertentu, berupa sakit, kerugian dalam usaha, kehilangan barang, meninggal dunia (musibah yang bersifat individual), dan bencana alam, peperangan, wabah penyakit, kekeringan yang berkepanjangan, dan musibah lain yang bersifat sosial.

Musibah adalah ketentuan yang datang dari Allah SWT yang tidak bisa ditolak maupun dicegah. Walau demikian, manusia wajib untuk menghindari atau mengantisipasi dari berbagai bentuk musibah yang sudah maupun yang akan terjadi pada diri kita. Seorang yang terkena sakit diwajibkan untuk berobat agar mendapatkan kesehatan seperti sedia kala. Bila terkena banjir, kekeringan, ataupun bencana alam lainnya, diwajibkan baginya untuk menghindar dari bahaya tersebut.

Upaya untuk mengantisipasi musibah bukan saja pada tingkat pencegahan semata, tapi juga pada tingkat penanggulangannya. Karena membiarkan diri dalam kerusakan dan kebinasaan sangat bertentangan dengan prinsip-prinsip Alquran dalam menjaga jiwa. Sebagaimana firman Allah, ''Dan janganlah kamu menjatuhkan dirimu sendiri ke dalam kebinasaan, dan berbuat baiklah karena sesungguhnya Allah sangat menyukai orang-orang yang berbuat baik.'' (QS Al Baqarah [2]: 195).

Islam memberikan tuntunan dalam menyikapi musibah yang dialami oleh seseorang, berupa istirja -- mengembalikan segalanya kepada Allah SWT dengan mengucapkan inna lillahi wa inna ilaihi raji'un (sesungguhnya kami milik Allah dan kami akan kembali kepada-Nya). Berdoa agar musibah yang menimpa diri kita hanyalah bentuk ujian dari Allah SWT bagi hamba-Nya yang soleh. Ikhlas dan lapang dada dalam menghadapinya, agar kita mendapatkan rahmat dan pahala-Nya.

Dalam kehidupan di dunia, secara niscaya manusia tidak akan pernah terlepas dari musibah, bencana, dan cobaan. Selama hayat masih dikandung badan, seketika itu juga musibah mengintai dan kerap menghampiri kita. Dua hal saja menghadapinya, melakukan upaya antisipasi dan ber-istirja. Waqllahu a'lam bish-shawab.

Sumber : Hikmah Republika Online, 05-12-2006
http://www.republika.co.id/kolom_detail.asp?id=274342&kat_id=14

No comments: