Oleh : Guslaeni Hafidz
Al-Hafidz Abu Ishak Ibrahim bin Abdurrahman meriwayatkan dari Dhamirah, dia mengisahkan, ada dua orang yang mengajukan persengketaan kepada Nabi SAW. Beliau memenangkan yang benar dan mengalahkan yang batil. Orang yang dikalahkan menyatakan ketidakrelaannya.
Temannya bertanya, ''Apa yang kamu inginkan?'' Dia menjawab, ''Kita ingin menemui Abu Bakar ash-Shiddiq.'' Maka keduanya pun berangkat untuk menemuinya. Orang yang menang berkata, ''Sesungguhnya kami berdua mengadukan persengketaan kami kepada Nabi SAW dan beliau memenangkan perkaraku.'' Maka Abu Bakar berkata, ''Kalian tetap dalam keputusan yang telah ditetapkan oleh Rasulullah SAW.''
Namun temannya tetap menolak keputusan dan berkata, ''Ayo kita menemui Umar saja.''' Kemudian orang yang menang perkara berkata, ''Sesungguhnya kami berdua mengadukan persengketaan kami kepada Nabi SAW dan beliau memenangkan perkaraku, tetapi dia tidak menerimanya.'' Kemudian Umar bertanya kepada orang yang menolak keputusan, dan dia berkata, ''Begitukah?'' Kemudian Umar masuk ke rumah dan sebentar kemudian dia keluar sambil membawa pedang yang terhunus. Lalu dia memenggal leher orang yang menolak keputusan hingga tewas.
Maka Allah menurunkan ayat, ''Maka demi Tuhanmu, mereka (pada hakikatnya) tidak beriman hingga mereka menjadikan kamu hakim terhadap perkara yang mereka perselisihkan. Kemudian mereka tidak merasa dalam hati mereka sesuatu keberatan terhadap putusan yang kamu berikan, dan mereka menerima dengan sepenuhnya.'' (QS An-Nisaa' [4]: 65)
Dalam mensikapi aturan Allah, sering kali kita terhanyut oleh perasaan. Kita menilai baik dan buruknya aturan dari Sang Pencipta mengikuti anggapan perasaan.
Kisah asbabun nuzul di atas seharusnya mengingatkan kita. Sebagai hamba Allah, tak pantas rasanya meragukan aturan-aturan yang telah Allah tetapkan. Sikap terbaik yang kita tunjukkan adalah sami'na wa ato'na (kami mendengar dan kami taat). Bukan lantas mengukurnya dengan perasaan yang sangat mudah terwarnai oleh kondisi lingkungan yang kian jauh dari nilai-nilai Islam.
Kini, saatnya kita belajar menjinakkan perasaan kita agar tidak terkotori oleh hawa nafsu yang bisa melemahkan keimanan kita. Ingatlah, ''Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak Mengetahui.'' (QS Al-Baqarah [2]: 216). Wallahu a'lam bi ash-shawab.
Sumber : Hikmah Republika Online, 11-12-2006
http://www.republika.co.id/kolom_detail.asp?id=275093&kat_id=14
Monday, December 11, 2006
Subscribe to:
Post Comments (Atom)
No comments:
Post a Comment