Tuesday, January 23, 2007

Terawasi

Oleh : Mujiyanto

Suatu malam Khalifah Umar bin Khathab berkeliling untuk mengamati kondisi rakyatnya. Di depan suatu rumah, dia mendengar perdebatan antara seorang ibu dan anak perempuannya. ''Wahai anakku, tambahkan sedikit air ke dalam susu itu untuk menambah pemasukan kita hari ini. Karena saat ini kita sedang membutuhkan banyak uang,'' kata sang ibu.

Anak perempuannya menjawab, ''Wahai ibu, tidakkah ibu mendengar Rasul kita mengajarkan bahwa 'siapa saja yang menipu maka dia tidak termasuk golongan kami' .... Tidakkah engkau ingat bahwa Amirul Mukminin telah mengingatkan hal itu dan melarang orang banyak untuk mengerjakannya?'' Sang ibu menyahut, ''Hai anakku! Siapa yang memberi tahu Umar? Kita ini sedang berbicara di waktu malam, tak seorang pun melihat kita.''

Anak itu pun membalas jawaban itu dengan mengatakan, ''Wahai ibu, meskipun Umar tidak melihat kita dan dia sedang tidur saat ini, tetapi Allah melihat kita. Dia tidak pernah mengantuk dan tidak pernah tidur. Bertakwalah wahai ibuku! Terimalah apa yang diberikan Allah untuk kita secara halal.'' Usai mendengar perdebatan itu Umar bertolak pulang sesudah meninggalkan tanda terhadap rumah itu. Selanjutnya dia memanggil anaknya Ashim di waktu pagi. Ashim diminta mencari rumah itu dan meminang gadis yang shalihah itu. Akhirnya gadis itu menjadi istri Ashim.

Andai perangai gadis putri penjual susu itu ada di kehidupan kaum Muslimin di negeri ini, alangkah indahnya. Sungguh negeri ini akan sejahtera. Betapa tidak, tidak akan ada korupsi, manipulasi, pungutan liar, mark up, dan segala jenis bentuk penipuan lainnya. Orang akan takut melakukan tindakan itu karena merasa diawasi oleh Zat Yang Maha Pengawas.

Gadis itu telah mempraktikkan secara nyata sifat ihsan yakni merasa diawasi oleh Allah kendati dia tidak melihat Allah. Sifat ini merupakan pembentuk pribadi mulia para sahabat Rasulullah. Sifat ini akan menjadikan kita selalu mengontrol diri atas seluruh perbuatan yang kita lakukan.

Ihsan mendorong setiap diri kita untuk menjadikan Allah sebagai tujuan hidup dan tempat bergantung. Dengan sifat tersebut, kita merasa tidak ridha kalau amal perbuatan kita dan saudara-saudara, teman, sahabat, keluarga, masyarakat, akan mendatangkan murka-Nya. Sebaliknya kita akan merasa bahagia jika Dia meridhai amal-amal kita semua.

Dalam situasi negeri yang carut-marut seperti saat ini, mau tidak mau sifat ini harus dilahirkan kembali. Para penguasa, birokrat, pegawai negeri, pegawai swasta, pedagang, petani, buruh, dan sebagainya perlu ingat bahwa kita semua dalam pengawasan Allah. Tak ada hal yang paling kecil sekalipun yang lepas dari pengawasan-Nya.

Sumber : Hikmah Republika Online, 23-01-2007
http://www.republika.co.id/kolom_detail.asp?id=279776&kat_id=14

No comments: