Wednesday, November 22, 2006

Sabar Saat Diuji

Oleh : KH Dr Surahman Hidayat MA

Sabar itu indah, kata Alquran. Tapi, bukan seperti dipahami oleh orang awam, sebagai sikap pasrah pada nasib yang menimpa. Secara bahasa pun, sabar artinya tahammul, yakni daya tahan/daya pikul. Sebuah kemampuan karunia Allah yang paling besar setelah iman.

Sepanjang jalan ujian, orang sabar ''tidak mengeluhkan kepedihan derita kepada siapa pun juga, kecuali kepada Allah Ta'ala'', seperti ditulis Al Jurjani. Sabar adalah tanda lulus dalam ujian musibah demi musibah. Hidup memang tidak terlepas dari ujian, agar bisa diketahui secara nyata siapa hamba Allah yang pejuang dan yang sabar dalam perjuangannya (QS Muhammad [47]: 31).

Allah akan menganugerahkan shalawat dan rahmat kepada yang sabar. Pahala yang tak terhingga di dunia, dan surga di akhirat. Ujian dengan musibah bukan untuk menjatuhkan manusia pada kenistaan. Justru sebaliknya sebagai tanda cinta dan rasa percaya dari Rabbbul 'alamin kepada hamba-Nya. Nyatanya, para nabi, hamba Allah yang paling dimuliakan dan dicintai-Nya, harus menempuh ujian paling berat, dibanding orang beriman lainnya.

Berat ringannya ujian disesuaikan dengan kadar keimanan yang bersangkutan. Setelah lulus menjalani ujian ada pemutihan dosa-dosa, dan ada promosi ke martabat/derajat yang lebih tinggi. Itulah yang terjadi pada Nabi Ayub AS; mendapat pujian ni'mal 'abd (hamba paling baik), karena dapat membuktikan kesabaran selama delapan belas tahun sakit semacam lepra, yang memakan seluruh tubuh, hanya menyisakan lidah dan jantungnya. Dalam ketiadaan harta semua orang menjauh, kecuali sang istri yang setia berkat iman di dada. Allah mengabulkan doa Ayub: mengangkat penyakitnya, mendatangkan kembali keluarga dan orang-orang yang bersamanya (QS Al Anbiya [21]: 83-84).

Ujian hidup bisa menimpa kita kapan saja. Baik sebagai individu, sebagai warga masyarakat, bagian dari umat atau anak bangsa. Itu bukan untuk dihindari, tapi untuk disikapi dan dikelola dengan manajemen sabar.

Tanpa kesabaran sama saja dengan orang jatuh lalu tertimpa tangga. Sedangkan dengan kesabaran, berarti memiliki modal pokok bangkit pascamusibah. Bahkan, tersedia energi yang dapat membuka peluang untuk lebih maju dari sebelumnya.

Sebagaimana dalam semangat doa musibah yang diajarkan Nabi SAW: ''Ya Allah berilah hamba pahala dalam musibah ini, dan gantilah musibah ini dengan yang lebih baik.''

Ujian ada yang berupa kesenangan. Di sini seorang Muslim tetap harus sabar dalam menaati aturan Allah. Dengan sabar, ia menikmati kesenangan tanpa penyimpangan. Sehingga, mengundang nikmat yang lebih besar lagi. Mari kita tingkatkan kesabaran.

Sumber : Hikmah Republika Online, 18-11-2006
http://www.republika.co.id/kolom_detail.asp?id=272217&kat_id=14

No comments: